Mengapa?

Forest, Batang Ai, Sarawak. M Sedgwick

Mengapa menciptakan ekonomi hijau?

Permintaan untuk pembangunan ekonomi di Sarawak dan Kalimantan Barat menimbulkan tekanan deforestasi di koridor Heart of Borneo. Perusahaan besar dan kecil membuka kawasan hutan bernilai tinggi untuk mengekstrak sumber daya kayu, dan menanam komoditas seperti kelapa sawit. WWF percaya bahwa tekanan deforestasi dapat dikurangi jika masyarakat lokal menghasilkan pertumbuhan ekonomi dari industri bebas deforestasi (atau industri hijau).

Hambatan berikut terhadap perkembangan alami industri hijau di Sarawak dan Kalimantan Barat telah diidentifikasi:

  • Masyarakat lokal dan kelompok masyarakat adat tidak memiliki kapasitas untuk merencanakan dan menerapkan ekonomi hijau
  • Instansi pemerintah tidak memiliki kapasitas yang cukup berkenaan dengan perencanaan penggunaan lahan dan pengelolaan sumber daya alam
  • Produsen komoditas meremehkan potensi pasar hijau
  • Daerah tidak memiliki contoh industri hijau yang baik.

Apa Itu Ekonomi Hijau?

Laporan Ekonomi Hijau UNEP (2011) mendefinisikan ekonomi hijau sebagai “ekonomi yang menghasilkan peningkatan kesejahteraan manusia dan keadilan sosial, sementara secara signifikan mengurangi risiko lingkungan dan kelangkaan ekologis”.

Ekonomi hijau dapat dilihat sebagai paradigma ekonomi yang mendorong pertumbuhan, pendapatan dan lapangan kerja, tanpa mengorbankan modal alami ekosistem dan keanekaragaman hayati. Ekonomi hijau memprioritaskan pembangunan ekonomi yang dapat melindungi sumberdaya alam, meningkatkan efisiensi sumber daya dan mendorong konsumsi berkelanjutan.

Aspek kunci dari ekonomi hijau adalah penekanannya pada mempertahankan sumberdaya alam untuk menjamin pertumbuhan hijau dan kemakmuran jangka panjang. Diagram berikut menunjukkan komponen penting dari ekonomi hijau (Heart of Borneo: Berinvestasi untuk Ekonomi Hijau WWF 2012).

What is green growth?

Konsep Ekonomi Hijau untuk Heart of Borneo

Pada tahun 2014, WWF menerbitkan Heart of Borneo: Berinvestasi di alam untuk ekonomi hijau. Laporan tersebut merangkum temuan proyek selama dua tahun yang menganalisis implikasi ekonomi hijau di Heart of Borneo (HoB). Analisis meliputi model skenario penggunaan lahan baru dan penelitian berbasis partisipatif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Laporan tahun 2014 tersebut dapat ditemukan di http://wwf.panda.org/?212510/Investing-in-Nature-for-a-Green-Economy.

Industri Berbasis Modal Alam

Small scale timber production, Batang Ai, Sarawak. M Sedgwick

Laporan tersebut mengidentifikasi sumberdaya alam yang signifikan di dalam HoB, termasuk hutan, mineral, tanah, air, kayu, keanekaragaman hayati, makanan, habitat dan penyerapan karbon. Laporan tersebut juga mengidentifikasi industri hijau berikut yang dapat dibangun di atas sumberdaya alam HoB:

  • Masyarakat Gaharu – inokulasi pohon dan budidaya;
  • Sertifikasi produsen agro-hutan kakao;
  • Sistem Tagal & akuakultur keramba untuk ikan Empurau;
  • Ekowisata berbasis masyarakat;
  • Jasa restorasi ekosistem;
  • Melindungi dan memulihkan konsesi penebangan kayu yang ditinggalkan;
  • Biobanking;
  • Bioprospeksi;
  • Sertifikasi untuk persediaan kayu yang bertanggung jawab;

    Fish release, Kapuas Hulu. L Haqeem
  • Sertifikasi untuk penanaman kelapa sawit yang bertanggung jawab;
  • Pengembangan pembangkit listrik tenaga air berkelanjutan yang; bertanggung jawab;
  • Penambangan yang bertanggung jawab;
  • Energi dan biogas;
  • Tenaga mikro hidro.

Temuan Utama

Laporan tersebut menemukan bahwa ekonomi hijau dapat mengurangi kemiskinan, meningkatkan pertumbuhan, menyeimbangkan ekonomi lokal dan mendukung mitigasi / adaptasi perubahan iklim. Secara khusus, penilaian menemukan bahwa berinvestasi pada modal alami dapat:

  • mengurangi biaya masa depan untuk bisnis, rumah tangga dan pemerintah;
  • meningkatkan pendapatan masa depan dari industri berbasis keanekaragaman hayati dan industry hijau;
  • meningkatkan hasil panen dan menurunkan konsumsi energi dalam negeri
  • mendukung transformasi menuju ekonomi yang lebih adil dan merata.

Sebuah Model Ekonomi Hijau

A young orangutan, Sarawak. Z Chan

Ekonomi hijau secara ideal mencakup sejumlah industri hijau. Perekonomian hijau di HoB dapat terdiri atas: membatasi pengembangan kelapa sawit hanya ke daerah-daerah yang terdegradasi; meningkatkan produksi kelapa sawit dan kayu bersertifikat; melindungi dan memulihkan konsesi hutan yang menganggur; mengurangi pemakaian pupuk dan pestisida; memperbaiki praktik pertambangan; memprioritaskan investasi dalam efisiensi energi dan energi terbarukan; dan memperluas industri berbasis keanekaragaman hayati seperti ekowisata.

Proyek Ekonomi Hijau Jantung Borneo berupaya dimulai dari komitmen jangka panjang WWF untuk mengembangkanĀ  ekonomi hijau di Heart of Borneo, dengan mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya untuk merencanakan pembangunan ekonomi hijau tingkat regional, dan menciptakan lingkungan di mana ekonomi hijau dapat tumbuh subur.

Perencanaan dan Tata Kelola

Untuk menghasilkan ekonomi hijau yang sekaligus dapat memanfaatkan dan melindungi sumberdaya alam, para penjaga sumberdaya alam harus menemukan mekanisme yang efisien untuk memanfaatkan sumberdaya alam. Proses ini dapat dimulai dengan mengembangkan inventarisasi potensi sumberdaya alam, dan kemudian menggunakan Pendekatan Lanskap untuk mengembangkan rencana penggunaan lahan dan pengelolaan bagi pemangku kepentingan yang ingin mengakses sumberdaya alam. Pertumbuhan ekonomi hijau mungkin juga memerlukan investasi dalam bentuk insentif, infrastruktur, peraturan dan kepatuhan.

Hill paddy, Batang Ai, Sarawak, Photo Credit: Jaynsen Sibat